valentinosantamonica.com – Xi Jinping: Yuan Harus Jadi Saingan Dolar AS! Dunia kini tengah mengalami pergeseran besar dalam tatanan ekonomi global. Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat mendominasi sebagai mata uang cadangan internasional dan pusat dari transaksi perdagangan lintas negara. Namun Presiden Xi Jinping menginginkan sesuatu yang berbeda: menjadikan yuan Tiongkok sebagai pesaing nyata terhadap dominasi dolar AS.
Langkah ini bukan retorika kosong. Sejak naik ke pucuk pimpinan, Xi terus mendorong yuan ke pusat panggung keuangan global. Pemerintah Tiongkok menggelontorkan kebijakan dan jalinan kerja sama internasional dengan tujuan membuat yuan lebih dipakai dalam perdagangan, investasi, dan sebagai cadangan mata uang di bank sentral luar negeri.
Pergeseran seperti ini punya dampak besar bagi struktur ekonomi dunia — dengan konsekuensi geopolitik, keuangan, serta hubungan antarnegara. Dalam tulisan ini, kita akan membedah gagasan ini secara teliti, memahami latar belakangnya, alasan di balik dorongan Xi, serta tantangan yang dihadapi.
Mengapa Yuan Ingin Menggeser Dolar?
Dominasi dolar selama ini bukan tanpa alasan. Amerika Serikat memiliki ekonomi besar, pasar finansial yang dalam, serta tingkat kepercayaan global yang sangat tinggi. Tetapi perubahan global beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa banyak negara mulai mencari alternatif.
Kelemahan Dominasi Dolar
Dolar sebagai pusat sistem keuangan global membuat negara lain sangat bergantung pada kebijakan moneter AS. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, negara berkembang yang berutang dalam dolar sering menghadapi tekanan besar. Utang menjadi lebih mahal, cadangan devisa terkuras, dan tekanan nilai tukar meningkat.
Bagi Xi Jinping, ketergantungan seperti ini menunjukkan kerentanan. Jika yuan bisa dipakai lebih luas, Tiongkok berpotensi mengurangi risiko sistemik bagi negaranya dan mitra dagangnya. Ini juga mengurangi dampak keputusan kebijakan AS terhadap negara lain.
Upaya Internasionalisasi Yuan Xi Jinping
Tiongkok sudah melakukan beberapa langkah konkret untuk memperkuat peran yuan di level global:
-
Perjanjian Bilateral dengan berbagai negara untuk transaksi perdagangan menggunakan yuan.
-
Peningkatan konektivitas pasar melalui jalur finansial antara Bursa Saham Hong Kong dan bursa Tiongkok daratan.
-
Kerja sama dengan lembaga keuangan di luar negeri untuk mempermudah penggunaan yuan dalam perdagangan komoditas.
Inisiatif seperti Belt and Road juga membuat penggunaan yuan kian umum di negara‑negara peserta.
Tantangan Besar Xi Jinping yang Harus Dihadapi Yuan
Meskipun dorongan dari Xi cukup kuat, realitas di lapangan tidak mudah. Yuan menghadapi sejumlah rintangan signifikan sebelum benar‑benar bisa sejajar dengan dolar.
Kredibilitas Pasar Finansial
Dolar didukung oleh pasar finansial yang sangat dalam dan likuid. Instrumen seperti obligasi pemerintah AS dipandang sebagai tempat aman investasi. Sementara itu, pasar modal Tiongkok masih dipandang kurang terbuka oleh sejumlah investor asing. Regulasi yang ketat serta kontrol modal masih menjadi hambatan besar.
Peningkatan kepercayaan internasional terhadap yuan memerlukan reformasi menyeluruh pada sistem pasar finansial di Tiongkok, termasuk transparansi yang lebih tinggi dan kebijakan yang lebih ramah untuk investor asing.
Sistem Perbankan dan Kontrol Modal

Tiongkok masih memiliki sistem kontrol modal yang ketat untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Ini berarti orang asing tidak bisa secara bebas masuk dan keluar dari aset yuan seperti layaknya pasar bebas di Amerika. Untuk banyak negara, ini menimbulkan ketidakpastian.
Jika yuan benar‑benar ingin digunakan secara luas di luar negeri, Tiongkok perlu mempertimbangkan pelonggaran kontrol modal yang secara historis sangat dijaga.
Kepercayaan Politik
Penggunaan mata uang dalam transaksi global selalu melibatkan unsur politik. Negara yang menempatkan cadangan devisa mereka dalam yuan harus percaya bahwa Tiongkok akan menjaga stabilitas moneter dan tidak akan menggunakan cadangan tersebut untuk tujuan politik. Ini bukan hal sepele, karena hubungan internasional sering berubah seiring dengan dinamika geopolitik.
Dampak bagi Indonesia dan Asia Tenggara
Dorongan Tiongkok membuat yuan semakin terlihat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ada beberapa implikasi yang perlu dicermati oleh pengambil kebijakan dan pelaku ekonomi di Indonesia.
Transaksi Perdagangan
Indonesia dan Tiongkok merupakan mitra dagang besar. Jika yuan makin banyak digunakan dalam perdagangan bilateral, Indonesia bisa mengurangi kebutuhan konversi ke dolar yang sering menyulitkan pelaku usaha kecil dan menengah. Hal itu bisa menekan biaya transaksi dan risiko nilai tukar.
Namun, terdapat risiko bahwa ketergantungan pada yuan justru membuat Indonesia lebih terikat pada kebijakan moneter dan ekonomi Tiongkok, sesuatu yang perlu ditimbang secara matang.
Investasi dan Utang Xi Jinping
Jika bank sentral atau investor Indonesia menempatkan sebagian cadangan dalam yuan, ini mencerminkan diversifikasi cadangan devisa. Tetapi diversifikasi membawa tantangan manajemen risiko baru, termasuk ketidakpastian pasar finansial Tiongkok.
Selain itu, pinjaman dalam yuan perlu dievaluasi dari sisi biaya jangka panjang dan kaitannya dengan nilai tukar rupiah.
Tiongkok vs AS: Lebih dari Sekadar Mata Uang
Dorongan Xi untuk membuat yuan bersaing dengan dolar tidak hanya soal ekonomi. Ini juga babak baru dalam hubungan kekuatan global antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Kompetisi ini memiliki banyak dimensi:
-
Ekonomi: Siapa yang mampu menarik kepercayaan pasar global?
-
Teknologi: Infrastruktur finansial digital dan sistem pembayaran lintas batas.
-
Politik: Hubungan diplomatik dan pengaruh di negara berkembang.
-
Keamanan: Aliansi strategis yang memengaruhi keputusan ekonomi.
Ketika sebuah negara besar mendorong mata uangnya ke panggung dunia, itu bukan sekadar keputusan moneter, tetapi juga bentuk ekspresi kekuatan nasional.
Apakah Dunia Siap Mengikuti?
Beberapa negara telah mulai memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan bilateral. Namun, mayoritas masih bergantung pada dolar. Banyak bank sentral besar juga menyimpan cadangan secara dominan dalam dolar, euro, dan yen.
Transisi menuju sistem multi‑mata uang global yang lebih seimbang kemungkinan akan memakan waktu bertahun‑tahun bahkan dekade. Ini bukan perubahan cepat, melainkan evolusi lambat yang dipengaruhi oleh kepercayaan, kebijakan, serta keadaan ekonomi global.
Kesimpulan
Dorongan Presiden Xi Jinping agar yuan menjadi saingan dolar AS mencerminkan perubahan dinamika global. Dominasi dolar selama puluhan tahun kini dipertanyakan oleh kekuatan ekonomi baru yang berkembang pesat. Tiongkok dengan segala upayanya ingin memperluas penggunaan yuan di perdagangan internasional, investasi, dan cadangan devisa.
Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar: dari kredibilitas pasar finansial, kontrol modal, hingga kepercayaan politik di kalangan negara lain. Perubahan semacam ini bukan hal instan; ia melibatkan reformasi struktural dan reshaping hubungan ekonomi global.
Bagi Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara, pergeseran peran mata uang global membuka peluang sekaligus tantangan. Ini adalah momen penting untuk menilai kembali hubungan dagang dan kebijakan moneter dalam konteks dunia yang semakin multipolar.
